Aku, Dasamuka yang Masih Menunggu

Aku, Dasamuka yang Masih Menunggu

Beberapa orang bilang, menulis bisa ngasih kita kebebasan. Ngasih pikiran kita kebebasan yang layak mereka dapetin. Jadi, aku memutuskan untuk mencoba menulis buatmu hari ini, bener-bener menulis, mencurahkan semua yg ada di kepalaku selama ini, dengan harapan mungkin itu akan membebaskanku dari rantai yang udah lama mengikat.

Kemarin aku baca kutipan orang, dan itu langsung bikin aku inget kamu dan gimana perasaanku tentang kamu waktu liat kamu pertama kali:

If you came to me with a face I’ve not seen, with a voice I’ve not heard, I would still know you. Even if centuries separated us, I would still feel you,

(Stardust — Lang Leav).

Rasanya kek baru beberapa hari kemarin aku ngeliat kamu keluar dari gerbang kampus. Sewaktu pertama kali aku nyesek cuma gara-gara liat cewe yg bahkan gakenal sama aku. Ngeliat kamu berdiri di depan kampus doang. Ngeliat senyum di wajahmu yang bisa bikin matahari pun jadi malu, sebagian dari pikiranku udah ngingetin tentang apa yang bakal aku rasain kalo ini aku lanjutin. Sekarang betapa aku berharap aku tidak mengabaikannya.

Kamu emang tau aku, tapi ngga pernah ‘lihat’ aku, ngga akan pernah. Dan kadang aku mikir kalo emang aku yg bukan siapa-siapa mu ini cukup beruntung. Karena kalo kamu bisa ‘lihat’ aku, apa yang bakal aku rasain sekarang? Emang penderitaanku bakal berkurang?

Aku minta maaf karena ngga bisa ngasih apa-apa. Tapi bukannya justru kehilanganmu bakal jauh lebih menyakitkan kalo aku bener-bener milikin kamu?

Beberapa waktu kemarin, mungkin 2–3 tahun sebelum tulisan ini aku tulis, aku mungkin masih mikir perasaaanku ke kamu bakal aku simpen sendirian. Tapi aku ngga bisa seterusnya kek gitu. Aku gabisa terus-terusan pura-pura kalo kamu itu ngga ada, pura-pura kalo kita ngga saling kenal.

Emang mau sampai kapan aku bisa nahan diri buat ngga tertarik sama kamu? Sampai kapan kira-kira peluang yang memungkinkan aku punya kesempatan buat sayang ke orang sampe segininya selain ke kamu? Hmmm? Sampai ladang gandum dihujani meteor coklat dan jadilah Koko Krunch? Halah, lawas.

“Kan dah gua bilang, lu sama Eka itu Kinjirareta Futari”, kata seorang temen. “Ha?”, sautku pake muka minta ditabok pake kursi kayu angkringan. “Dua orang yang terlarang”. Singkat padat, jelas. Shit.

Hmm, balik lagi ke Dasamuka ato Rahwana. Pada dasarnya semua orang punya dua sisi, ngga ada yang sepenuhnya hitam, ngga ada yang sepenuhnya putih. Coba sekarang dilihat dari sisi Rahwana atau dari sisi orang lain yang kita tak bisa melihatnya.

Sekilas Tentang Rahwana Sang Dasamuka

Kredo yang sudah mendarah daging di kehidupan kita mungkin benar, bahwa: Rahwana adalah Penjahat dan Rama adalah pahlawannya. Namun dalam urusan cinta, sekali lagi hanya sebatas dalam urusan cinta, kredo tersebut mungkin bisa diperdebatkan.

Setelah berhasil menculik Sinta dari tangan Rama, Rahwana tidak langsung menjamah atau menyekapnya, melainkan menempatkan Dewi Sinta di taman Argasoka. Konon, taman Argasoka ini merupakan replika dari keindahan surga yang ada di Kahyangan. Selama bertahun tahun Sinta dimuliakan di taman ini, tanpa dijamah sedikitpun apalagi disakiti oleh Rahwana. Setiap hari, selama bertahun-tahun Rahwana datang untuk menyatakan cinta kepada Sinta secara sopan, setiap hari pula hatinya remuk redam mendengar penolakan Sinta.

Walaupun begitu tak sedikitpun sikap Rahwana berubah, cintanya terlalu tulus kepada istri penguasa negeri Ayodya tersebut.

Apa yg dilakukan oleh sang Dasamuka? Menunggu. “Menunggu adalah cara terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya, agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti, entah kapan”, pikir Rahwana.

– Sepenggal Kisah Cinta Rahwana

Mungkin itu cinta yang dimengerti Rahwana karena memang cinta yang dipaksakan hanya akan menghasilkan benci. Rasa kasih sayang memang tidak bisa dipaksakan kepada siapa harus diberikan, harus dengan pendekatan yang benar untuk bisa mendapatkan cinta yang murni. 3 Tahun lamanya hari hari dimana Rahwana membujuk agar dewi sinta mau menikah denganya, dan ia juga selalu meminta maaf karena telah menculiknya. Permintaan maaf itu tentunya karena melihat wanita yang ia cintai bersedih hati karena perbuatannya.

Aku, Si Goblok yang Mengharapkan Seorang Kamu

Udah susah-susah sekolah biar jadi orang pinter, mendadak sia-sia karena siapa pun orangnya, pasti bakal goblok kalo lagi kasmaran wkwk.

Ya nggak jadi goblok gimana, Ka, lha wong kalo kasmaran jadi nggak bisa mikirin kerjaan. Setiap hari ilang konsentrasi, yang aku lakuin cuman prengas-prenges, cengar-cengir, salah tingkah, telapak tangan tiba-tiba basah, dan jantung yang nggak berhenti deg-degan. Padahal itu cuman gara-gara mikirin kamu. Iya emang cinta kadang sebelas-duabelas sama sakit maag.

Kelakuan goblok lainnya yang sering aku lakuin itu kalo dinasehatin, nggak pernah mau dengerin kata orang.

Kamu pasti pernah disuruh jual mahal, dan balas chat dilama-lamain biar gebetan penasaran selama PDKT, kan? Tapi kenyataannya nggak pernah aku lakuin karena ngga kuat lah bgsd, pengin langsung balas chat, dan menunjukan banyak afeksi ke kamu. Bodo amat dah disebut murahan juga, namanya juga lagi goblok.

Ketika momen-momen sedih lebih sering terjadi dibandingkan dengan momen bahagia, kita akan dihadapkan pada kebingungan apakah sebaiknya kita meninggalkan atau bertahan — alias nunggu ditinggalkan.

Saking gobloknya, aku jadi sering mikir: “Apa yang salah dariku?”, “Kenapa aku nggak pantas untuknya?”, atau “Kenapa dia nggak bisa menjalankan hubungan ini denganku?”. Meski pertanyaan-pertanyaan memilukan ini hadir, aku justru makin terdorong untuk “menyombongkan diri”. Dasar ngga tau diri, iya aku.

Bukan perkara gampang buat aku biar bisa jujur ke diri sendiri, jujur menerima emosi sendiri, termasuk di dalamnya perasaan suka terhadap manusia lain, lalu kerinduan tak berbalas wkwk, sampe ngerasain sakitnya patah hati dan seterusnya.

Sebenarnya ini bukan hanya soal perasaan terhadap lawan jenis dalam konteks romans, terhadap keluarga atau teman pun, aku bukan tipe orang yang pinter mengungkapkan perasaan secara langsung. Jangankan mengungkapkan, mau mengakui kalau mereka berarti buat aku aja rasanya sulit. Iya, gengsian.

Ini bukan lagi tentang mendapat penerimaan orang lain atas ekspresi perasaan yang aku lakuin. Karena ngga semua ekspresi rasa yang kita perjuangin bisa diterima. Meski begitu, usaha untuk mengekspresikannya bukan berarti tanpa hasil.

Yah, walaupun ujung-ujungnya aku tahu kalo perasaan ini tetap aja berakhir pilu karena kamu, gimana pun juga, orang yang ngga mungkin aku miliki. Mamam~

Tapi di atas semua itu, aku bilang sayang ke kamu ya semata-mata biar kelak tidak menyesal gara-gara ga ngomong ke kamu, juga biar aku lega udah bisa ngungkapinnya. Mengeluarkan perasaan setelah mengafirmasi dan menerimanya adalah bentuk jujur pada diri sendiri. Bagi beberapa orang mungkin mudah, tapi tidak bagi orang lain. Dan orang lain ini banyak.

Mereka memendam segala perasaan dalam-dalam (bahagia, sedih, marah, kecewa, dkk) dan hanya menampakkan yang sekiranya diterima lingkungan sekitar mereka. Padahal tidak selamanya kita harus tertawa. Orang optimis juga boleh menangis. Orang kuat juga boleh istirahat. Orang ramah juga boleh marah. Toh mengendalikan dan membohongi diri itu dua hal berbeda. Yang pertama membuatmu sehat, yang kedua membuatmu sakit. Lalu apa yang bisa terjadi pada manusia yang jiwanya tersakiti? “Menjadi orang jahat,” katamu.

Terkadang rasa sayang memang bikin bucin nggak ketulungan. Nggak heran, masih tetep sayang aja padahal gadapet feedback apapun.

Meskipun kamu jauh lebih berarti buatku, kamu juga ada sebagai tragedi yang indah. Dan kadang aku pengen teriak ke dunia, ke kuping orang-orang, ngasih tahu mereka kalo kamu itu matahari dan hujan di hidup aku.

If it doesn’t break your heart, it isn’t love

Kamu itu ada dan berarti banyak buat aku. Semua impianku yang paling indah dan semua mimpi terburuk yg aku punya. Semua hal yang aku takutin, tetapi aku tetep pengen. Intinya aku mendadak goblok kalo udah ada hal yg ada sangkut-paut nya sama kamu.

Mencintai seseorang tapi tak bisa memilikinya mungkin terdengar menyedihkan, tapi ia memang relate af ke banyak orang di permukaan Bumi. Saking putus asanya, orang-orang ini — alias kita-kita semua — atau terutama aku — milih berlindung di balik kalimat klise, “Cinta tak harus memiliki”. Halah, taik!

Cinta itu dibangun dari banyak komponen, dan kesedihan adalah salah satunya. Kalau isinya hanya yang bahagia-bahagia thok, itu bukan cinta namanya, tapi pasar malam. If it doesn’t break your heart, it isn’t love.

Oiya, kamu “anak Inggris” kan, Ka? Pasti nyambung dong kalo diajak ngomong ato sekedar baca tulisan bahasa Inggris, wkwk.

I felt attached to you, and now I’m lost. Get lost and drowned, and all the feelings that I feel to you seem to be killing myself slowly.

Semua bagian dariku bakal tetep sayang sama kamu, seterusnya bakal gitu, dan aku bakal bersyukur gara-gara emosi sekali seumur hidup yang kudapet gara-gara kamu. Makasih udah hadir dari sana sebagai Eka di keputusasaanku, Eka di kesendirianku.

Dan apapun reaksi kamu abis baca tulisanku yg ini, aku bakal tetep nunggu. At least, cuma itu pelajaran yg aku ambil dari Dasamuka. Sebangsat-bangsatnya aku, sebajingan-bajingannya aku, gabakal main-main kalo udah ada sangkut pautnya sama kamu.

Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?

Rahwana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *