Tahun Ketigaku Mencintaimu dalam Diam

Abay | Feb 25, 2020 ยท Read: 3 mins

Tahun Ketigaku Mencintaimu dalam Diam - Obsesi, itulah kesimpulan yang dapat kugambarkan tentang rasa ini. Wajah standarmu cukup membuatku terpana. Setiap ada yang menyebut namamu jantung ini berdetak. Berangan semoga kelak aku adalah pendampingmu. Berbenah diri agar aku layak menjadi pendampingmu. Sungguh begitu gilanya diriku terhadapmu. Not only falling in love Now, i’m obsessed with you~

Tuhan mempertemukan aku denganmu merupakan satu hal yang TUHAN tulis dalam buku kehidupanku. Salahkah aku? Umatmu yang sadar bahwa diri ini penuh dosa namun tetap mencintainya?

Tuhan, seharusnya rasa cinta itu ngga pernah ada. Jika dia bukan ditakdirkan buatku, mengapa Kau berikan sebuah kenyamanan sehingga aku sulit melepaskannya ? Dia seseorang yang selalu membuatku tertawa diantara kesedihan dan yang membuatku bersemangat di hari yang begitu buruk sekalipun.

Jika Kau hanya mempertemukan aku dengannya dan mematahkan hatiku. Untuk apa aku harus bertemu dengannya? Seandainya cinta tak pernah hadir dari awal. Mungkin cinta beda hati ini tidak akan menggoreskan luka. 

Selalu ada satu chapter dalam perjalanan setiap orang yang membuat masing-masing kita merenung lama dan bertanya. Biasanya perjalanan ini melibatkan kejatuhan yang amat sangat, porsi percaya akan masa depan yang besar — kemudian diakhiri dengan sakit hati yang meremukkan dan membuat kita lupa akan arti kata tegar. Cinta yang sejatuh-jatuhnya, cinta yang membuta kita amnesia terhadap perasaan bahagia.

Jangan tanya kapan karena aku sendiri ngga tau ini sejak kapan. Aku cuma yakin waktu dan semesta belum merestui kisah dan perjalananku dengannya.

Jangan tanya bagaimana, proses ini sudah berlangsung lama. Aku juga udah lupa kapan terkahir aku ngerasain sedih (hoax). Aku udah sangat bahagia — meski sekilas — dengan berbotol-botol minuman haram tentunya, wkwk~

Kamu yang Dingin atau Aku yang Terlalu Ingin?

Setiap kali orang bertanya tentang tentang kamu, selalu tertangkap perubahan mimik di wajahku yang berusaha tampak biasa. Senyum di wajahku tetap ada, namun sinar di mataku hilang sementara. Pembicaraan tentang dia selalu membawa pikiranku ke cerita panjang yang membuka luka perih di dada.

Obsesi, itulah kesimpulan yang dapat kugambarkan tentang rasa ini. Wajah standarmu cukup membuatku terpana. Setiap ada yang menyebut namamu jantung ini berdetak. Berangan semoga kelak aku adalah pendampingmu. Berbenah diri agar aku layak menjadi pendampingmu. Sungguh begitu gilanya diriku terhadapmu. Not only falling in love Now, i’m obsessed with you~

Tapi ketika kesadaran sudah memenuhi otakku. Aku sadar kalo kamu cuma bunga yang menemani mimpiku. Kamu cuma sosok yang membuatku gundah. Kebenaran tentangmu juga aku belum tahu sepenuhnya. Namun, masih sulit bagiku untuk membuka hati selain dirimu. Walaupun aku tahu gamungkin aku punya kesempatan buat one-step-closer ke kamu.

Tahun Ketigaku Mencintaimu dalam Diam

Salah jika aku mengagumimu. Berulang kali mulutku mengatakan itu. Ketika aku tak pernah tahu apa yang harus diri ini lakukan terhadapmu. Namun hatiku selalu menyangkalnya. Ngga ada yang salah tentang perasaan. 

Gabungan kecewa, sakit, buramnya masa depan, sampai usaha menjaga perasaan orang-orang sekitar membuatku memilih diam. Atau mungkin cukup melihatmu dari jauh. Ada beberapa perasaan yang memang tak pernah tamat. Berdamai dengannya jadi satu-satunya cara agar kamu tetap jadi pejuang yang terhormat.

Melahap semua harapan indah yang telah terlukis dalam pikiranku selama memikirkanmu. Menabur warna hitam dalam pelangi. Berusaha membunuh semua perasaan yang terlanjur ada padamu, tapi tetap gagal. Aku kalah, aku kalah dengan pikiranku. Aku kalah dengan waktu yang tidak berpihak denganku. Aku kalah dengan semua yang sempat kugenggam dan terpaksa ku lepaskan. Aku diam, aku diam tanpa mampu berkata apapun.

Kecewa ini datang berkali-kali kepadaku. Seperti sekarng misalnya, aku lagi-lagi harus merasakan kehilangan harapan itu, harapan untuk bisa hidup bahagia bersamamu. Ngga ada alasan yang kuat, kamu pergi gitu saja, dan kamu tinggalkan rasa yang telah aku bangun kembali setelah hancur berkali-kali dengan semaumu. 

Apa yang salah dariku? Aku telah belajar banyak tentang kesalahan yang pernah aku perbuat terhadap mereka yang pernah singgah dalam hatiku, Namun tetap saja aku masih harus belajar kembali setelah hari ini kau tanamkan lagi pelejaran kecewa dalam waktuku.

Mengagumimu adalah anugerah sekaligus musibah yang sayangnya selalu aku syukuri. Inginku memang kamu. Tapi kalo takdir berkata yang sebaliknya, aku bisa apa? Tahun ini, tahun ketigaku mencintaimu dalam diam. Semoga yang aku semogakan untuk mu bisa segera tersemogakan.

< back